Sunday, October 28

Yahudi Dalam al-Qur'an: Sebuah Pengantar

Dewasa ini sering tampak seakan-akan hubungan antara Muslim dengan Yahudi didominasi oleh fanatisme, intoleransi, bahkan permusuhan yang sejati. Banyak yang menyatakan bahwa permusuhan Muslim terhadap Yahudi merupakan ajaran al-Qur?an itu sendiri. Bagaimana al-Qur?an menggambarkan Yahudi? Benarkah secara inheren ia memang memusuhi Yahudi? Benarkah Yahudi digambarkan sebagai kera dan babi? Jawaban yang sederhana atas pertanyaan yang terakhir adalah tidak. Al-Quran tidak pernah menyatakan Yahudi sebagai kera dan babi. Nanti kita akan melihat lebih jauh persoalan ini. Namun sebelum itu, mari lebih dulu kita melihat secara luas gambaran menyeluruh tentang Yahudi dalam al-Qur?an. Tulisan berikut ini secara keseluruhan menyoroti al-Qur?an dan dimaksudkan sebagai sebuah pengantar. Selain oleh al-Quran, pandangan kaum Muslim juga dibentuk oleh Hadis serta tafsir yang sudah berlangsung berabad-abad. Tulisan-tulisan yang akan datang akan menyoroti sumber-sumber semacam ini serta berbagai persoalannya.

Ada sekitar 60 ayat dalam al-Qur?an yang berbicara secara langsung mengenai atau terhadap Yahudi. Dua pertiga di antaranya itu menggunakan istilah ?Bani Israel? (Anak-anak Israel), lainnya menggunakan istilah ?Yahudi? atau ?mereka yang diberi petunjuk.? Selain ayat-ayat yang secara khusus berbicara tentang Yahudi, al-Qur?an juga bicara tentang Ahli Kitab dan ?mereka yang diberi Kitab.? Ayat-ayat ini secara umum dipahami sebagai merujuk kepada Kristen dan Yahudi, yaitu mereka yang menerima kitab suci sebelum al-Qur?an. Al-Qur?an juga menyebut Taurat belasan kali, serta Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud. Selain berbagai macam ayat yang berbicara kepada atau tentang Yahudi, surat ke-17 al-Qur?an diberi judul ?Bani Israel.?.?

Untuk lebih memahami gambaran al-Qur?an tentang Yahudi, adalah penting mengerti gambaran al-Qur?an tentang agama itu sendiri. Agama yang benar, menurut al-Qur?an, adalah tunduk kepada Tuhan (arti harfiah islam dalam bahasa Arab). Siapa saja yang tunduk kepada Tuhan, dalam definisi harfiah ini, adalah muslim. Jadi, islam, dalam makna generic atau arti harfiahnya adalah agama semua nabi dan rasul sejak Nuh hingga Ibrahim, Musa, Yesus, dan Muhammad (lihat Quran 10:71-72, 84; 2:128-131; 5:110-111). Jadi ada perbedaan antara istilah muslim sebagai makna generic yang merujuk kepada seseorang yang tunduk kepada Allah, dengan kata benda Muslim, yang merujuk kepada para pengikut agama yang dibawa Muhammad pada abad ketujuh. Apakah seseorang perlu menjadi Muslim untuk menjadi muslim? Haruskah seorang Yahudi yang mengakui Muhammad sebagai Rasul dan al-Qur?an sebagai kitab suci beralih memeluk Islam? Jawaban yang mungkin muncul dari sudut pandang al-Qur?an sendiri adalah: tidak.

Semua nabi sebelum Muhammad, menurut al-Qur?an, adalah muslim, begitu juga mereka yang mengimani dan mengikuti mereka. Bani Israel menikmati kedudukan yang istimewa, ?Wahai Bani Israel, ingatlah akan nikmat yang Aku berikan kepadamu, dan Aku meninggikan kamu di antara semua makhluk.? [يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ] (Qur'an, 2: 47; 2: 122)]. Al-Qur?an membicarakan nikmat dan perjanjian Tuhan dengan Bani Israel secara rinci:


Hai Bani Israel, sesungguhnya Kami telah menyelamatkan kamu dari musuh-musuhmu dan membuat perjanjian dengan kamu di sebelah kanan gunung itu, dan kami telah menurunkan kepadamu madu dan burung puyuh. [يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ قَدْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَوَاعَدْنَاكُمْ جَانِبَ الطُّورِ الْأَيْمَنَ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى] (Qur?an, 20: 80)

Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israel Kitab dan kebijakan serta kenabian, dan Kami berikan kepada mereka rizki-rizki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa yang lain. [وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ] (Qur?an, 45: 16)

Kami telah mengambil perjanjian dengan Bani Israel: ?Jangan menyembah selain Allah, berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang-orang miskin. Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada orang lain. Dirikan salat dan tunaikan zakat. Tapi kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu selalu berpaling. [وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ] (Qur?an, 2: 83)

Kedudukan istimewa mereka serta perjanjiannya dengan Tuhan memberi tanggung jawab yang besar kepada Bani Israel: tanggung jawab untuk memikul perjanjian dan mematuhi hukum serta petunjuk yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Lalu, apa kritik al-Qur?an terhadap Yahudi? Petunjuk atas persoalan ini muncul di akhir ayat 2: 83, di atas: Setelah itu kamu berpaling dan menentang, kecuali sedikit saja di antara kamu: [ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ ]. Sebagaimana al-Qur?an menjelaskan secara rinci nikmat dan perjanjian dengan Bani Israel, al-Qur?an juga membicarakan pelanggaran-pelanggaran terhadap perjanjian tersebut.


Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti, kemudian kamu jadikan anak sapi sebagai sesembahan setelah kepergiannnya, dan kamu kembali berpaling. [وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ] (Qur'an, 2: 92).


Kami mengambil janji dari kamu, bahwa kamu tidak akan saling menumpahkan darah, dan kamu tidak akan mengusir sebagian kamu dari kampung halamanmu. Kemudian kamu setuju dan bersaksi. Tetapi kamu kemudian saling membunuh dan mengusir sebagian yang lain dari kampung halamannya, kamu saling membantu dengan yang lain dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tahanan kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka adalah terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian isi Kitab dan ingkar atas sebagian yang lain? وإذ أخذنا ميثاقكم لا تسفكون دمآئكم ولا تخرجون أنفسكم من دياركم ثم أقررتم وأنتم تشهدون. ثم أنتم هؤلآء تقتلون وتخرجون فريقا منكم من ديارهم تظاهرون عليهم بالإثم والعدوان وإن يأتوكم أسارى تفادوهم وهو محرم عليكم إخراجهم أفتؤمنون ببعض الكتاب وتكفرون ببعض (Qur'an, 2: 84-85).


Kamu telah mengetahui orang-orang yang melanggar pada hari Shabbat, maka kami berfirman kepada mereka: ?Jadilah kamu kera yang hina." [وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ] (Qur'an, 2: 65).
Adalah dalam konteks yang sama bahwa Quran menggunakan istilah kera dan babi dalam ayat 5: 60, meskipun di ayat itu tidak disebutkan merujuk kepada Yahudi. Inilah ayat 5: 60 selengkapnya:

Katakanlah: ?Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya (dari orang-orang fasik) di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, dan di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan orang-orang yang menyembah thagut. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus." [قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ]

Beberapa orang beranggapan bahwa ayat di atas merujuk secara khusus kepada Yahudi. Padahal kalau dibaca konteksnya anggapan semacam itu sangat tidak tepat. Ini jelas terbaca dalam ayat 5: 57-58.


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu atau orang-orang yang kafir. Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman. Dan apabila kamu menyeru mereka untuk mengerjakan salat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka itu orang yang tidak mengerti. [يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَوَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ .و إِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ]

Persoalan yang dibicarakan dalam ayat-ayat di atas adalah mengenai mereka yang mengolok-olok agama, entah mereka yang menerima kitab suci sebelumnya atau pun mereka yang tidak mempercayainya. Tentu saja, Yahudi adalah kelompok yang menerima kitab suci sebelumnya. Ini yang menjadi dasar pernyataan bahwa ayat 5: 60 itu merujuk kepada mereka. Namun, tidak ada dasar Qurannya untuk menyatakan bahwa ayat itu secara eksklusif merujuk kepada Yahudi. Penekanan dalam persoalan ini bukanlah agama, atau bahkan bukan, mereka yang Tuhan marahi sehingga Dia kutuk menjadi kera, babi, dan pelayan-pelayan kejahatan. Penekanannya adalah pada tindakan yang membuat mereka harus menerima hukuman dari Tuhan?mengolok-olok agama bagi mereka yang percaya kepada Tuhan dan kitab suci yang tidak para pengolok itu terima. Banyak di antara para pengolok itu adalah mereka yang menerima kitab suci terdahulu.


Katakanlah, hai Ahli KItab, apakah kamu memandang kami salah hanya lantaran kamu beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik. " [قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ] (Qur'an, 5: 59)

Tetapi apakah ini berarti mereka semua yang menerima kitab suci sebelumnya? Ayat-ayat lain menunjukkan dengan jelas bahwa ternyata tidak demikian.


Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari sedangkan mereka juga bersujud atau sembahyang. Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma?ruf dan mencegah dari yang munkar, dan bersegera mengerjakan berbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan maka tidak akan ditolak Allah. Allah mahatahu pada orang-orang yang bertakwa. [لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ (Qur'an, 3: 113-115) 


Sesungguhnya orang-orang yang beriman, Yahudi, Sabiin, dan Nasrani, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran pada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. [إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (Qur'an, 5: 69).]

Ayat-ayat di atas dengan jelas memperluas janji Tuhan kepada semua yang beriman dan berbuat baik, terlepas mereka itu mengimani al-Qur?an maupun tidak. Mereka yang dicela dalam al-Qur?an adalah mereka yang gagal memenuhi janji dengan Tuhan. Al-Qur?an sama sekali tidak menyuruh Yahudi untuk meninggalkan Taurat dan memilih al-Qur?an. Malah sebaliknya. Al-Qur?an berulang kali menyatakan bahwa ia datang untuk membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya, bukan menggantikannya. Memang, al-Qur?an mencela Yahudi Medinah karena mereka datang kepada Muhammad untuk membuat keputusan padahal mereka memiliki Taurat


Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya ada hukum Allah kemudian mereka berpaling sesudah itu dari putusanmu, dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman. [وَكَيْفَ يُحَكِّمُونَكَ وَعِنْدَهُمُ التَّوْرَاةُ فِيهَا حُكْمُ اللَّهِ ثُمَّ يَتَوَلَّوْنَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ ] (Qur'an, 5: 43)

Ayat berikut ini lebih lanjut menekankan pentingnya Taurat, dan kenyataan bahwa mereka yang mengikutinya tunduk kepada Tuhan.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya ada petunjuk dan cahaya yang menerangi, yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkn mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku, dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. []إنا أنزلنا التوراة فيها هدىً ونورٌ يحكم بها النبيون الذين أسلموا للذين هادوا والربانيون والأخبار بمااستخفظوا من كتاب الله وكانوا عليه شهداء ، فلا تخشواالناس واخشون ولا تشتروا بآياتى ثمنا قليلا ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون (Qur'an, 5: 44) ]

Dengan mempertimbangkan semua ayat-ayat ini, baik yang berbicara kepada atau tentang Bani Israel, Yahudi, atau ahli Kitab, menjadi jelas bahwa celaan dan kutukan itu bukan kepada Yahudi sebagai orang tetapi hanya kepada mereka yang tidak menyembah Tuhan dan tidak menunaikan janji mereka dengan-Nya. Jadi, kalau Yahudi mengakui Muhammad sebagai rasul dan al-Qur?an sebagai Kitab Allah, mesti mengikuti Taurat. Berlaku sebaliknya berarti mengingkari al-Qur?an. Al-Qur?an juga memberi ubat penawar yang jelas bagi fanatisme dan intoleransi agama:


Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur?an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain; maka putuskanlah perkara menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah dating kepadamu. Bagi tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap apa yang diberikannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah lah kamu semua kembali, lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. [وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ ] (Qur'an 5:48)

Mari kita baca kata-kata al-Qur?an ini dengan hati-hati dan buka pikiran serta hati kita untuk menerima bahwa Tuhan telah memberi kita berbagai tradisi dan kebiasaan yang berbeza yang dengannya kita menyembah Dia, karena itu kita boleh mulai berlumba satu sama lain dalam melakukan amal baik demi Tuhan dan untuk kebaikan kita juga.

0 ulasan:

Post a Comment

Tinggalkan Komen Anda Di Sini Cerita Kedai Kopi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Copyright © Cerita Kedai Kopi